Sejarah

Departemen Anestesiologi dan Reanimasi berdiri pada 1 Juli 1972 yang dipelopori oleh Prof. Dr. Karjadi Wirjoatmodjo Sp.An, Dr. Herlien Harmijati Megawe, Sp.An dan Prof. Dr. Siti Chasnak saleh, Sp.An. Saat ini dikembangkan bidang minat Cardiovascularthesia, Orthopedic-anesthesia, Trauma-anesthesia, anesthesia untuk transplantasi organ, Pain and Palliative Cancer serta Intensive care. Di lembaga ini juga ada “Skill Lab” untuk mengajar dan melatih cara-cara penanganan kegawatan. Ilmu ini diarahkan sebagai life support and management of stress and pain. Tiga pilar utama pendidikan anestesi di FKUA adalah :

1. Pengelolaan anestesia yang aman, bebas stres dan nyeri.
2. Manejemen nyeri dalam segala bentuknya (nyeri operatif, nyeri akut, nyeri kronik, nyeri kanker, dll).
3. Critical Care Medicine (Kedokteran Gawat darurat) yang terdiri atas komponen, resusistasi, emergency medicine, ICU dan PPGD (Penangulangan penderita Gawat Darurat).

Sebelumnya anestesiologi merupakan salah satu seksi dari bagian Bedah. Pada proses awal menjadi bagian tersendiri pada tahun 1972, perkuliahan dan kepaniteraan klinik masih juga bagian dari pokok bahasan ilmu bedah. Tahun 1984, anestesiologi menjadi cabang tersendiri dalam ilmu kedokteran dan terpisah dari ilmu bedah. Ini karena landasan anestesiologi lebih terkait dengan ilmu faal, farmakologi, patofisiologi dan anatomi. Perubahan juga terkait dengan perkembangan internasional.

Laboratorium Anestesiologi dan Reanimasi di FKUA juga memberikan pelayanan pendidikan untuk S1, keperawatan, S1 Kedokteran Gigi untuk ilmu bedah mulut, D3 Hiperkes untuk pertolongan pertama dalam kecelakaan kerja, profesi spesialis anestesiologi dan lain-lain. Staf laboratorium ini juga mengikuti berbagai penelitian, antara lain terkait tindakan anestesia, pencegahan penyakit akibat anestesia dan pembedahan, upaya menurunkan mortalitas dan morbiditas akibat anestesia, pembedahan dan trauma.

Seorang dokter spesialis anestesiologi dan reanimasi diharapkan tak hanya memiliki keterampilan melakukan pembiusan saja, namun juga harus mampu menangani keadaan gawat darurat obstetri. Misalnya, pada kasus-kasus kehamilan dan persalinan beresiko tinggi seperti pendarahan, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan dan asfiksia. Juga pada keadaan gawat yang menyangkut kehidupan janin dan ibu seperti yang terjadi pada tali pusar prolapsed, perdarahan placenta previa, abruptions placenta dengan janin hidup, fetal bradycardia dan persalinan normal yang gagal.